Arsenal kini memimpin perburuan gelar Premier League 2025/2026 dengan koleksi 64 poin, unggul lima angka dari pesaing terdekatnya, Manchester City. Namun, keberhasilan Meriam London ini memicu perdebatan karena dianggap terlalu bergantung pada situasi bola mati (set piece).
Senjata Mematikan Mikel Arteta
Statistik menunjukkan bahwa bola mati adalah kartu as bagi Arsenal musim ini:
24 gol lahir dari bola mati (sepak pojok, tendangan bebas, dan lemparan ke dalam).
16 gol di antaranya tercipta khusus dari sepak pojok, menyamai rekor liga dalam satu musim.
29 gol dihasilkan melalui permainan terbuka (open play), hanya kalah produktif dari Manchester City (36 gol).
Ketergantungan ini membuat legenda Inggris, Paul Scholes, melontarkan kritik tajam dengan menyebut Arsenal bisa menjadi “juara terburuk” jika akhirnya memenangi liga lewat strategi tersebut.
Pembelaan dari Pep Guardiola
Berseberangan dengan Scholes, manajer Manchester City, Pep Guardiola, justru memberikan pujian. Ia menilai kemampuan mencetak gol dari skema apa pun adalah sebuah keunggulan yang diinginkan semua pelatih.
“Saya yakin semua pendukung Arsenal akan bilang ‘jangan ubah sedikit pun strategi bola mati kami’. Mereka punya insting kuat untuk mencetak gol dari situasi itu. Saya tidak setuju jika ada yang bilang kualitas liga atau calon juaranya musim ini tidak bagus,” tegas Guardiola via ESPN.
Bagi Guardiola, menciptakan rasa percaya diri bahwa tim pasti akan mencetak gol saat mendapat bola mati adalah sebuah prestasi teknis yang patut diapresiasi, bukan dicibir.
.
Disclaimer: