Lionel Messi mencatat penampilan ke-100 bersama Inter Miami saat menghadapi Orlando City SC.
Namun momen spesial itu justru berakhir pahit.
Inter Miami kalah 3-4 setelah sempat unggul tiga gol.
Messi tampil berkontribusi dengan satu gol dan satu assist, bahkan membantu timnya unggul 3-0 di babak pertama.
Namun, keunggulan tersebut sirna setelah Orlando bangkit di babak kedua dan mencetak empat gol balasan.
Di sinilah muncul pertanyaan penting.
Bagaimana tim bisa kehilangan keunggulan tiga gol di level profesional?
Seorang analis skeptis akan langsung menyoroti masalah struktural, terutama di lini pertahanan dan manajemen permainan.
Kehadiran pemain kelas dunia seperti Messi memang meningkatkan kualitas serangan, tetapi tidak otomatis memperbaiki organisasi tim secara keseluruhan.
Di sisi lain, statistik Messi tetap luar biasa.
Dalam 100 laga, ia telah mencatatkan kontribusi lebih dari 130 gol (gol + assist), angka yang belum pernah dicapai pemain lain di MLS dalam jumlah pertandingan tersebut.
Namun, perspektif alternatifnya cukup tajam.
Apakah dominasi individu justru membuat tim terlalu bergantung?
Ketika sistem kolektif tidak cukup kuat, kehadiran satu pemain hebat tidak cukup untuk mengamankan kemenangan.
Messi sendiri mengakui kekecewaannya.
Baginya, hasil tim tetap lebih penting dibanding pencapaian pribadi.
Kesimpulannya, laga ke-100 Messi menegaskan dua hal sekaligus: kehebatannya secara individu dan kerentanan timnya secara kolektif.
Disclaimer: