Timnas Italia kembali menjadi sorotan setelah gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Kegagalan terbaru terjadi setelah kalah dari Bosnia & Herzegovina di babak playoff Piala Dunia 2026 lewat adu penalti.
Situasi ini memicu berbagai kritik terhadap sistem pembinaan sepak bola Italia. Namun, Ruud Gullit menawarkan sudut pandang berbeda.
Menurutnya, Italia seharusnya kembali ke identitas aslinya, yakni gaya bermain bertahan khas yang dikenal sebagai Catenaccio.
Gullit menilai kekuatan utama Italia sejak dulu terletak pada lini pertahanan yang solid, kiper tangguh, serta penyerang yang efisien.
Ia mencontohkan keberhasilan Italia di UEFA Euro 2020, di mana peran bek seperti Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini sangat krusial dalam membawa tim meraih gelar.
Meski mengalami penurunan performa di level dunia, Italia sebenarnya masih memiliki fondasi dari generasi sebelumnya.
Beberapa pemain seperti Gianluigi Donnarumma masih menjadi bagian penting tim saat ini.
Namun, pertanyaan besar tetap muncul: apakah kembali ke gaya lama bisa menjadi solusi?
Di satu sisi, catenaccio terbukti efektif dalam sejarah. Tapi di sisi lain, sepak bola modern menuntut fleksibilitas dan adaptasi taktik yang lebih dinamis.
Italia kini dihadapkan pada pilihan penting: kembali ke akar tradisional atau beradaptasi dengan tren permainan modern.
Disclaimer: