Insiden antara Gabriel Magalhaes dan Erling Haaland masih menuai perdebatan.
Dalam laga Manchester City vs Arsenal di Premier League, Gabriel terlihat menanduk Haaland.
Namun, wasit Anthony Taylor hanya memberikan kartu kuning kepada kedua pemain.
Keputusan ini tidak diubah oleh VAR yang dipimpin John Brooks.
Dua pekan berselang, panel independen bentukan liga melakukan peninjauan ulang.
Hasilnya, mayoritas panelis menilai Gabriel seharusnya mendapat kartu merah.
Di sinilah muncul pertanyaan krusial.
Apakah sistem VAR benar-benar efektif jika insiden “jelas” masih bisa lolos?
Seorang analis skeptis bisa berargumen bahwa masalahnya bukan pada teknologi, melainkan interpretasi manusia.
VAR hanya membantu, tetapi keputusan akhir tetap bergantung pada subjektivitas wasit.
Di sisi lain, ada juga panelis yang membela keputusan di lapangan.
Mereka menilai intervensi VAR tidak selalu diperlukan, terutama jika wasit merasa sudah melihat insiden dengan jelas.
Perspektif alternatifnya, standar keputusan seperti ini justru menimbulkan inkonsistensi.
Dalam situasi serupa di pertandingan lain, tindakan yang sama bisa berujung kartu merah.
Kesimpulannya, kasus ini menyoroti masalah klasik dalam sepak bola modern: bukan sekadar ada atau tidaknya teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan secara konsisten.
Disclaimer: