Paul Pogba akhirnya kembali tampil sebagai starter bersama AS Monaco setelah absen lebih dari 1.000 hari.
Dalam laga melawan FC Metz di Ligue 1, Pogba bermain selama 58 menit sebelum digantikan.
Namun, comeback tersebut tidak langsung menuai pujian.
Penampilannya dinilai biasa saja, bahkan mendapat kritik tajam karena dianggap belum kembali ke level terbaik.
Di sinilah penting untuk menguji asumsi yang muncul.
Apakah performa satu pertandingan cukup untuk menyimpulkan bahwa Pogba “sudah habis”?
Seorang analis skeptis akan menolak kesimpulan tersebut.
Setelah absen dua tahun akibat kasus doping dan minimnya waktu bermain, penurunan performa di laga awal justru hal yang sangat wajar.
Kondisi fisik, ritme permainan, dan adaptasi tak bisa pulih instan.
Di sisi lain, kritik juga punya dasar.
Sebagai gelandang bertahan, kontribusi defensif Pogba dinilai belum optimal—terutama dalam duel dan positioning.
Perspektif alternatifnya, peran baru ini sendiri bisa menjadi tantangan.
Pogba lebih dikenal sebagai gelandang box-to-box atau kreator, bukan anchor murni.
Artinya, penilaian performanya perlu mempertimbangkan konteks peran di lapangan.
Kesimpulannya, label “habis” terlalu dini untuk diberikan.
Yang lebih akurat adalah: Pogba masih dalam proses comeback, dan butuh waktu untuk membuktikan apakah ia bisa kembali ke level elit atau tidak.
Disclaimer: