
Ditulis oleh Redaksi GoalParlay
Update: 14 Januari 2026
Legenda sepak bola Italia Fabio Capello secara blak-blakan mengungkap sejumlah kelemahan AC Milan yang menurutnya masih menghambat Rossoneri untuk kembali benar-benar bersaing di level tertinggi, baik di Serie A maupun Eropa.
Dalam gambar pertandingan, terlihat para pemain Milan—termasuk Rafael Leao—berdiskusi di lapangan. Momen tersebut mencerminkan upaya komunikasi tim, namun juga menggambarkan masalah klasik yang disorot Capello: ketidakkonsistenan dan kurangnya kepemimpinan di momen krusial.
Capello: Milan Masih Rapuh di Momen Penting
Capello menilai AC Milan punya kualitas individu yang tidak bisa diremehkan. Namun, ia menekankan bahwa tim masih sering kehilangan fokus ketika berada di bawah tekanan.
“Milan bermain bagus, tapi ketika situasi sulit datang, mereka sering goyah,” kata Capello.
Menurutnya, tim besar harus mampu menjaga stabilitas emosi dan performa sepanjang 90 menit.
Masalah Ketajaman dan Pengambilan Keputusan
Salah satu poin utama kritik Capello adalah efektivitas di sepertiga akhir lapangan. Milan dinilai kerap mendominasi permainan, tetapi gagal mengonversi peluang menjadi gol.
Ia juga menyoroti pengambilan keputusan yang terburu-buru, terutama saat menghadapi lawan dengan pertahanan rapat.
Kurangnya Figur Pemimpin di Lapangan
Capello menyebut Milan membutuhkan figur pemimpin yang benar-benar mampu mengendalikan tim saat laga berjalan tidak sesuai rencana. Meski memiliki pemain bintang, tidak semuanya memiliki karakter pemimpin alami.
“Talenta saja tidak cukup. Milan butuh pemain yang bisa bicara dan bertindak di lapangan,” tambahnya.
Masih Punya Modal untuk Bangkit
Meski kritis, Capello tidak sepenuhnya pesimistis. Ia menilai Milan memiliki fondasi yang baik dan hanya perlu memperbaiki detail-detail penting agar bisa naik level.
Dengan pembenahan mental, konsistensi, dan kepemimpinan, Rossoneri dinilai masih punya peluang besar untuk kembali menjadi kekuatan dominan.
Tantangan ke Depan
Komentar Capello menjadi pengingat keras bagi Milan bahwa sejarah besar tidak otomatis menjamin kesuksesan. Jika ingin kembali ditakuti, Rossoneri harus menyelesaikan masalah internal yang terus berulang.
Disclaimer:





