
Ditulis oleh Redaksi GoalParlay
Update: 4 Agustus 2026
Timnas Indonesia menunjukkan kelemahan dalam menerapkan strategi high pressing sepanjang Piala AFF 2026. Pola permainan yang diusung pelatih John Herdman dinilai belum berjalan maksimal ketika sejumlah pemain kunci tidak berada di lapangan.
Saat mengalahkan Kamboja 5-1, skema 3-4-3 dengan garis pertahanan tinggi tampil efektif. Kehadiran Sandy Walsh membuat transisi bertahan lebih rapi, sementara Marc Klok, Ivar Jenner, dan Thom Haye mampu menjaga keseimbangan permainan.
Namun, situasinya berbeda saat menghadapi Timor Leste. Absennya Sandy Walsh membuat lini belakang Indonesia beberapa kali mudah ditembus melalui serangan balik, meski akhirnya Garuda tetap menang 3-0 setelah perubahan pemain di babak kedua.
Masalah yang sama kembali terlihat saat Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam. Tim asuhan Kim Sang-sik mampu memanfaatkan ruang kosong di belakang pertahanan Indonesia dan mencetak dua gol cepat melalui skema serangan balik.
John Herdman mengakui Vietnam tampil berbeda dibanding laga sebelumnya melawan Singapura. Sementara itu, Rizky Ridho juga mengakui kesalahannya yang berujung pada gol pembuka Vietnam dan berjanji melakukan evaluasi agar tidak terulang.
Menghadapi Singapura pada laga penentu, Herdman diperkirakan perlu menyesuaikan strategi. Jika Sandy Walsh belum bisa tampil atau kondisi lini belakang belum ideal, mengurangi intensitas high pressing dapat menjadi pilihan agar pertahanan Indonesia lebih solid dan peluang lolos ke semifinal tetap terjaga.
Disclaimer:
Artikel ini ditulis oleh Tim Redaksi GoalParlay sebagai bagian dari liputan eksklusif seputar sepak bola internasional. Informasi bersumber dari media terpercaya dan disajikan dalam gaya khas GoalParlay. Gambar yang digunakan bersumber dari situs publik dan hak cipta tetap milik pemilik aslinya. Jika Anda keberatan atas penayangan konten, silakan hubungi kami melalui kontak redaksi.




