Penyerang berusia 19 tahun itu mencatatkan tujuh gol dan tujuh assist dari 18 pertandingan di semua kompetisi.
Namun, di balik performa tersebut, muncul kritik keras dari sang ayah, Douglas Sousa.
Ia menilai Madrid telah “mengambil” kesempatan bermain putranya.
Menurutnya, kebutuhan utama Endrick hanyalah waktu bermain yang cukup di lapangan.
Pernyataan ini membuka asumsi yang perlu diuji.
Apakah benar Madrid “menghambat” perkembangan Endrick?
Atau justru situasi ini adalah konsekuensi wajar dari persaingan di klub besar?
Di Madrid, Endrick harus bersaing dengan pemain top seperti Kylian Mbappe.
Seorang analis skeptis bisa berargumen bahwa minimnya menit bermain bukan bentuk ketidakadilan, melainkan refleksi dari standar tinggi di level elite.
Di sisi lain, fakta bahwa Endrick langsung bersinar di Lyon menunjukkan bahwa ia memang membutuhkan ruang untuk berkembang.
Lingkungan yang memberinya kepercayaan penuh tampaknya berdampak besar terhadap performanya.
Ayahnya juga menegaskan bahwa kebahagiaan sang pemain kini menjadi prioritas utama keluarga.
Hal ini menambah dimensi emosional dalam keputusan karier Endrick ke depan.
Setelah masa pinjaman berakhir, Endrick dijadwalkan kembali ke Madrid.
Namun, rumor ketertarikan dari klub lain seperti Arsenal membuat masa depannya tetap terbuka.
Kesimpulannya, situasi Endrick mencerminkan dilema klasik pemain muda: bertahan di klub besar dengan persaingan ketat, atau mencari tempat yang menjamin menit bermain.
Disclaimer: