Ajang FIFA World Cup 2026 kembali menjadi sorotan organisasi hak asasi manusia. Kelompok advokasi Sport & Rights Alliance mendesak FIFA untuk memastikan turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut berlangsung aman, inklusif, dan menghormati hak-hak dasar semua pihak.
Organisasi tersebut mengingatkan bahwa sejumlah kebijakan imigrasi di Amerika Serikat berpotensi menimbulkan kekhawatiran bagi penggemar, jurnalis, serta komunitas imigran yang ingin hadir dalam turnamen. Kekhawatiran juga muncul terkait kebebasan pers selama pelaksanaan kompetisi.
Dalam surat terbuka kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino, mereka menegaskan bahwa sepak bola seharusnya menjadi ajang yang menyatukan berbagai kalangan di seluruh dunia. Namun kebijakan pembatasan visa maupun razia deportasi dikhawatirkan justru membuat banyak pihak merasa tidak aman untuk datang.
“Sepak bola menyatukan dunia—tetapi tidak jika larangan visa dan razia deportasi massal menjauhkan imigran, pekerja, jurnalis, komunitas, dan penggemar,” tulis pernyataan tersebut.
Sementara itu, pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump menyatakan fokus utama mereka adalah memastikan penyelenggaraan turnamen berjalan sukses sekaligus aman.
Juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, mengatakan pemerintah berkomitmen menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah, dengan tingkat keamanan tinggi.
Organisasi HAM tersebut juga meminta FIFA bekerja sama dengan negara tuan rumah untuk memastikan akses yang adil bagi penggemar dan media. Selain itu, mereka menekankan pentingnya perlindungan terhadap pekerja, komunitas lokal, serta kebebasan pers selama turnamen berlangsung.
Mereka juga menyoroti bahwa sebagian komite penyelenggara lokal belum merilis Rencana Aksi Hak Asasi Manusia yang seharusnya menjadi pedoman dalam mengelola risiko pelanggaran HAM selama ajang tersebut berlangsung.
Disclaimer: