Barcelona mengusung misi nyaris mustahil saat menjamu Atletico Madrid pada leg kedua semifinal Copa del Rey. Kekalahan telak 0–4 di leg pertama membuat Blaugrana tak punya pilihan selain tampil sempurna, cerdas, dan tanpa cela jika ingin membalikkan keadaan di Camp Nou, Rabu (4/3/2026) dini hari WIB.
Untuk lolos ke final, Los Cules wajib menang dengan margin minimal lima gol tanpa kebobolan—sebuah tugas berat, terlebih menghadapi Atletico yang dikenal disiplin, dingin, dan ahli merusak ritme lawan.
Meski begitu, Barcelona masih memiliki senjata mematikan di lini depan. Kombinasi Lamine Yamal, Marcus Rashford, Raphinha, dan predator kotak penalti Robert Lewandowski memberi harapan akan ledakan gol. Namun, pelatih Hansi Flick menekankan bahwa kunci laga ini bukan sekadar agresivitas, melainkan kesabaran dan kolektivitas tim.
“Selalu lebih baik memikirkan gol pertama. Kami harus cerdas. Kami lapar, dan saya ingin melihat rasa lapar itu di lapangan,” ujar Flick, dikutip dari Football Espana.
Flick juga menyoroti perbedaan intensitas permainan Barcelona dalam laga terakhir. Menurutnya, hanya dengan bermain sebagai satu kesatuan—bukan individualisme—Barça bisa menekan Atletico sejak menit awal tanpa kehilangan keseimbangan.
Sejarah memang pernah berpihak pada Barcelona. Pada 8 Maret 2017, dunia menyaksikan comeback legendaris saat Blaugrana menghancurkan PSG 6–1 setelah tertinggal agregat empat gol di Liga Champions. Namun, Atletico Madrid bukan PSG. Mereka adalah tim yang justru semakin berbahaya saat memimpin agregat besar.
Kini pertanyaannya bukan sekadar apakah Barcelona bisa mencetak gol, melainkan:
mampukah mereka mencetak banyak gol tanpa membuka ruang bagi Atletico untuk membunuh laga lewat satu serangan balik?
Camp Nou akan bergemuruh. Tekanan akan memuncak. Tapi apakah malam magis itu akan terulang—atau justru menjadi akhir perjalanan Barcelona di Copa del Rey musim ini?
Disclaimer: