Ruben Amorim hanya menjalani masa singkat sebagai manajer Manchester United. Banyak yang menilai ceritanya mungkin akan berbeda jika ia diberi waktu lebih lama untuk membangun tim.
Amorim diangkat pada November 2024, namun harus kehilangan jabatannya pada Januari lalu setelah rentetan hasil buruk. Selama menangani MU, ia mencatat persentase kemenangan kurang dari sepertiga dari total 47 laga Premier League yang dijalaninya.
Secara keseluruhan, rasio kemenangan Amorim hanya 38,1 persen, termasuk salah satu yang terendah dalam sejarah klub. Situasi internal tim pun dikabarkan kurang harmonis, dengan pendekatan tegas Amorim disebut memicu ketegangan.
Manajemen akhirnya mengambil keputusan cepat untuk mengakhiri kerja sama, meski harus mengeluarkan biaya pesangon hampir 16 juta paun. Angka tersebut membengkak karena Amorim membawa lima staf pelatih ke Old Trafford.
Salah satu mantan asistennya, Adelio Candido, meyakini Amorim sebenarnya memiliki kapasitas untuk membawa MU kembali bersaing, asalkan diberi waktu mengembangkan ide-idenya.
“Saya sangat menyukai kota Manchester dan melihat bagaimana fans begitu fanatik terhadap sepakbola. Mereka lebih peduli pada proyek jangka panjang daripada hasil instan,” ujar Candido kepada A Bola.
“Yang disayangkan adalah kami tidak diberi waktu cukup untuk sepenuhnya menerapkan ide dan konsep yang kami bawa,” tambahnya.
Setelah kepergian Amorim, posisi manajer interim diisi oleh Michael Carrick. Hasilnya cukup impresif, dengan enam kemenangan dan satu hasil imbang dari tujuh laga liga terakhir. MU bahkan kini telah naik ke posisi ketiga klasemen usai menang 2-1 atas Crystal Palace.
“Hanya waktu yang bisa menjawab apakah pengalaman di Manchester United ini berdampak buruk atau tidak bagi karier kami,” tutup Candido.
Disclaimer: